Megadewa88portal,Jakarta – Industri penerbangan dunia dikejutkan oleh salah satu recall terbesar dalam sejarah Airbus. Pada akhir November 2025, Airbus mengeluarkan peringatan teknis mendesak yang mempengaruhi sekitar 6.000 pesawat keluarga A320. Jumlah ini merupakan lebih dari separuh armada global jenis single-aisle tersebut.

Recall mendadak ini dipicu oleh temuan serius mengenai keselamatan. Radiasi matahari yang intens dapat merusak data kritis pada sistem kontrol penerbangan pesawat. Gangguan ini berpotensi menyebabkan manuver tak terduga di udara.

Perintah perbaikan darurat ini di keluarkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA). Perintah ini mengharuskan maskapai global segera melakukan software update besar-besaran. Akibatnya, ratusan penerbangan di batalkan dan ribuan penumpang mengalami penundaan parah.

Ancaman Software Glitch ELAC terhadap Keselamatan Penerbangan

Masalah utama berakar pada Elevator Aileron Computer (ELAC). ELAC adalah sistem inti yang mengatur permukaan kontrol penerbangan vital. Penyelidikan insiden JetBlue mengungkapkan adanya korelasi. Solar flare atau radiasi matahari dapat mengkorupsi data ELAC.

Ini menyebabkan pesawat dapat pitch down atau menukik tanpa input dari pilot. Untuk sekitar dua pertiga dari pesawat yang terdampak, solusinya adalah software update. Proses ini relatif cepat.

Software update ini memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam per pesawat. Perbaikan ini biasanya di lakukan saat pesawat menginap. Namun, sekitar 1.000 jet yang lebih tua membutuhkan penggantian perangkat keras. Proses penggantian ini memakan waktu yang jauh lebih lama.

Baca Juga : Trump Nyatakan Ruang Udara Venezuela Ditutup Sepenuhnya

Recall ini terjadi pada waktu yang paling buruk. Ini bertepatan dengan masa puncak liburan Thanksgiving di Amerika Serikat. Maskapai besar seperti Avianca terpaksa menutup penjualan tiket hingga Desember. Ini terjadi karena lebih dari 70% armada A320 mereka terdampak perbaikan.

Maskapai Asia, termasuk IndiGo dan Air India, juga menunda ratusan penerbangan mereka. Airbus mengakui adanya konsekuensi operasional yang signifikan dari recall ini. CEO Airbus Guillaume Faury bahkan menyampaikan permintaan maaf kepada maskapai dan penumpang. Meskipun demikian, prioritas utama adalah keselamatan penerbangan global di atas segalanya.