Megadewa88 portal,Yogyakarta – Di antara deretan kekayaan kuliner malam kota pelajar, Kopi Jos telah lama menjadi fenomena unik yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Minuman khas Yogyakarta ini bukan sekadar secangkir kopi biasa; ia adalah sebuah tradisi yang memadukan kehangatan kopi dengan bara arang panas, menciptakan sebuah sensasi minum yang bikin penasaran dan tak terlupakan. Kopi Jos telah bertransformasi dari sekadar minuman kaki lima menjadi ikon budaya yang wajib dicoba.

Megadewa88 menyelami lebih dalam mengapa racikan kopi arang ini begitu istimewa dan bagaimana suasana malam di sekitar angkringan Malioboro turut melengkapi pengalaman menikmati minuman legendaris ini. Minuman ini menjanjikan tidak hanya keunikan visual, tetapi juga sebuah kisah tentang tradisi dan kearifan lokal dalam menyajikan kopi.

Keunikan Eksentrik: Mengapa Harus Ada Arang?

Inti dari Kopi Jos terletak pada proses penyajiannya yang eksentrik: setelah kopi diseduh dan dicampur dengan gula secukupnya, sepotong arang kayu yang telah dibakar hingga membara (memancarkan warna merah membara) dicelupkan langsung ke dalam gelas kopi. Aksi dramatis ini segera menimbulkan bunyi mendesis khas, “josss,” yang kemudian menjadi nama populer minuman ini.

Ada dua narasi utama di balik praktik penggunaan arang ini:

  1. Pengurangan Tingkat Keasaman: Secara kimiawi, arang aktif (activated carbon) dikenal memiliki sifat menyerap (adsorpsi). Dipercaya bahwa bara arang panas ini mampu menyerap kadar kafein dan asam lambung yang berlebihan dalam kopi. Bagi beberapa penikmat kopi yang sensitif terhadap lambung, efek ini dianggap membuat Kopi Jos lebih ramah dan nikmat dikonsumsi di malam hari.
  2. Sensasi Rasa dan Aroma Khas: Pencelupan arang juga secara instan meningkatkan suhu kopi ke titik didih yang cepat, melepaskan aroma kopi yang lebih intens. Selain itu, bara arang memberikan sedikit sentuhan rasa asap yang khas (smoky finish) pada kopi, menciptakan dimensi rasa baru yang membedakannya secara tajam dari kopi-kopi lainnya.

Asal-Usul dan Budaya Angkringan Malam

Kopi Jos tidak dapat dipisahkan dari budaya angkringan atau warung gerobak sederhana yang mendominasi kehidupan malam di Yogyakarta. Konon, minuman ini pertama kali diciptakan oleh seorang pedagang angkringan di kawasan Stasiun Tugu pada tahun 1960-an, yang mencoba menyajikan sesuatu yang berbeda dan bikin penasaran bagi para penikmat kopi yang kedinginan.

Di angkringan, Kopi Jos seringkali dinikmati bersama dengan aneka side dishes khas, seperti nasi kucing (nasi bungkus porsi kecil), sate usus, dan berbagai macam gorengan. Suasana yang diciptakan—berkumpul di bangku kayu sederhana di bawah rembulan, diiringi obrolan santai dan bunyi “josss”—adalah bagian integral dari pengalaman menikmati minuman ini. Ini adalah representasi otentik dari keramahan dan kesederhanaan budaya Jawa yang klasik dan hangat.

Dari Keraguan Menjadi Kepercayaan Publik

Pada awalnya, ide mencelupkan arang ke dalam minuman tentu menimbulkan keraguan di kalangan banyak orang. Namun, seiring waktu, efektivitas dan keunikan rasanya berhasil mengubah keraguan tersebut menjadi kepercayaan. Para pelanggan setia Kopi Jos bukan hanya mencari kopi, tetapi mencari pengalaman yang dramatis, otentik, dan bikin penasaran.

Baca juga: Ketupat Babanci, Cita Rasa Legendaris Betawi

Kini, Kopi Jos bukan hanya sekadar menu lokal; ia telah menjadi duta budaya Yogyakarta yang diekspor. Berbagai coffee shop modern bahkan mencoba mengadaptasi konsep kopi arang ini, membuktikan bahwa tradisi yang unik dan autentik selalu memiliki tempat di hati para penikmat kopi yang selalu mencari sensasi baru dan pengalaman yang kaya akan cerita. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta, mencicipi Kopi Jos adalah ritual yang wajib dilakukan untuk menyelami lebih dalam jiwa kota ini.