Megadewa88portal,Jakarta – Polda Metro Jaya mengungkap fakta mengejutkan terkait aksi anarkis yang terjadi di Jakarta pada akhir Agustus 2025. Sejumlah pelaku di ketahui mengonsumsi narkoba sebelum melakukan tindakan kekerasan untuk menghilangkan rasa takut dan meningkatkan keberanian. Hal ini membuat mereka lebih leluasa melakukan aksi anarkis, sehingga menimbulkan potensi bahaya bagi masyarakat dan petugas keamanan.

Dari 1.240 orang yang di amankan selama kerusuhan, sebanyak 22 orang positif narkoba berdasarkan tes urine. Mereka akan di kenakan Pasal 127 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, namun tetap di prioritaskan untuk rehabilitasi medis dan sosial. Kombes Ahmad David, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, menekankan bahwa pendekatan rehabilitatif lebih efektif bagi pelaku yang terpengaruh narkoba di bandingkan hanya di jerat hukum.

Dampak dan Penanganan Kerusuhan

Kerusuhan pada 25 Agustus 2025 menyebabkan kerusakan fasilitas umum dan gangguan ketertiban di sekitar Gedung DPR/MPR. Polda Metro Jaya menetapkan 38 orang sebagai tersangka dari total yang diamankan. Sebagian besar pelaku berasal dari luar Jakarta, termasuk Jawa Barat dan Banten. Enam tersangka juga ditangkap karena menghasut pelajar dan anak-anak melalui media sosial, mereka dijerat Pasal 160 KUHP dan UU ITE.

Para pelaku menggunakan narkoba jenis metamfetamin, THC, dan obat keras lain 3–7 hari sebelum aksi. Konsumsi ini membuat mereka berani melakukan kekerasan tanpa takut, sehingga menimbulkan risiko besar bagi masyarakat. Polda Metro Jaya menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara profesional dan humanis, serta memastikan upaya preventif agar kerusuhan serupa tidak terjadi di masa depan.

Baca Juga : UMKM Laris Saat Panglima TNI Makan Malam di Monas

Kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Langkah edukatif dan preventif di harapkan dapat menekan angka kekerasan dalam unjuk rasa. Pendekatan rehabilitasi bagi pelaku yang positif narkoba di anggap sebagai strategi penting untuk mengurangi risiko berulang dan melindungi keamanan publik.