Megadewa88portal,Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah menggenjot proyek ambisius Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di tujuh kota besar. Proyek ini bertujuan ganda: mengatasi krisis sampah perkotaan dan sekaligus memperkuat ketahanan energi baru terbarukan (EBT). Tujuh kota yang menjadi lokasi prioritas adalah Tangerang, Bogor, Bekasi, Semarang, Yogyakarta, Medan, dan Bali.

Langkah ini di dukung penuh oleh penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) 109 Tahun 2025 yang baru. Perpres ini merupakan terobosan penting yang menghilangkan masalah pembiayaan yang membelit proyek PLTSa sebelumnya. Dengan skema baru, PLN akan menyerap listrik dari PLTSa dengan harga yang kompetitif.

Salah satu proyek di Yogyakarta di klaim mampu mengolah sampah hingga 12 ton per hari pada tahap awal operasional. Meskipun angka tonase harian ini masih relatif kecil di bandingkan kapasitas ideal yang dibutuhkan kota, proyek ini menjadi batu loncatan yang krusial. Proyek percontohan ini di harapkan menjadi model untuk di terapkan di 33 kota lainnya di masa depan.

Perpres 109/2025: Kunci Financial Closing dan Fokus Hilirisasi Sampah Menjadi Energi

Terobosan paling signifikan dalam Perpres 109/2025 adalah di hapusnya skema tipping fee konvensional yang lama. Sebelumnya, pemerintah daerah harus menanggung selisih biaya pembelian listrik oleh PLN yang rumit. Skema pembiayaan yang rumit ini sering menghambat proyek mencapai financial closing dan berjalan.

Saat ini, seluruh biaya pembelian listrik di masukkan ke dalam Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN. Kebijakan baru ini menyederhanakan proses investasi secara signifikan bagi investor. PLN telah menetapkan harga pembelian listrik dari PLTSa sebesar 20 sen per kWh untuk menjamin kelayakan investasi.

Baca Juga : Pendaki di Ranu Kumbolo diminta turun akibat erupsi Semeru

Proyek PLTSa ini diharapkan mulai groundbreaking pada Kuartal I tahun 2026 mendatang. Fokusnya adalah mengubah sampah menjadi energi listrik yang bermanfaat, bukan hanya menumpuknya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Keberhasilan proyek ini akan membuka ribuan lapangan kerja hijau dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang berbahaya.