Megadewa88 portal,NUSANTARA – Di tengah gempuran tren kuliner modern yang silih berganti, ada satu penganan tradisional yang kokoh mempertahankan posisinya di hati masyarakat Indonesia: Wingko. Camilan khas ini, yang lebih dikenal dengan sebutan Wingko Babat, merupakan perwujudan sempurna dari cita rasa sederhana namun memikat yang seolah tak tergerus oleh laju waktu. Kehadirannya di berbagai pusat oleh-oleh di Pulau Jawa, terutama Semarang, menjadi penanda abadi kekayaan kuliner Nusantara.

Harmoni Kelapa dan Ketan: Filosofi Rasa Wingko
Wingko adalah kue semi-basah yang terbuat dari perpaduan harmonis antara tiga bahan utama: kelapa muda parut, tepung beras ketan, dan gula pasir—seringkali diperkaya dengan santan untuk tekstur yang lebih legit. Adonan ini kemudian dipanggang secara tradisional, menghasilkan kue berbentuk bulat pipih yang memiliki keunikan tekstur: bagian pinggir yang sedikit renyah dengan bagian tengah yang kenyal, lembut, dan legit.
Aroma khas kelapa panggang yang menyeruak menjadi daya tarik utama yang menggugah selera, memberikan sensasi manis yang seimbang dengan rasa gurih kelapa. Meskipun resep aslinya berfokus pada rasa kelapa murni, seiring perkembangan zaman, Wingko Babat telah berevolusi dengan varian rasa inovatif, seperti pandan, durian, cokelat, hingga keju, menambah daya pikatnya bagi generasi muda tanpa menghilangkan akar otentiknya.
Jejak Sejarah dari Babat ke Semarang
Secara historis, Wingko sejatinya berasal dari Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, bukan Semarang, meskipun Wingko Babat identik sebagai oleh-oleh khas ibu kota Jawa Tengah tersebut. Jejak sejarah mencatat, kudapan ini mulai dikenal luas di Babat pada awal abad ke-20, yang dipelopori oleh keluarga keturunan Tionghoa.
Popularitas Wingko kemudian meroket di Semarang setelah salah satu keturunan pembuat Wingko Babat membawanya dan mulai memasarkannya secara masif di sekitar stasiun dan terminal bus di Semarang pada masa setelah kemerdekaan. Karena letak Semarang yang strategis sebagai pusat persinggahan di Jalur Pantai Utara Jawa (Pantura), Wingko Babat dengan cepat dikenal luas oleh para pelancong dan menjadi oleh-oleh wajib. Untuk menghormati asal-usulnya, nama “Babat” tetap diabadikan di belakang nama kue ini.
Lebih dari Sekadar Oleh-Oleh: Simbol Nostalgia dan Warisan
Kelebihan Wingko Babat yang mudah dibawa dan memiliki daya tahan relatif lama menjadikannya pilihan ideal sebagai buah tangan. Namun, esensi Wingko melampaui fungsi sebagai oleh-oleh. Di setiap gigitan Wingko, tersimpan narasi panjang tentang kehangatan tradisi dan keahlian kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Proses pembuatannya yang sering kali masih menggunakan cara tradisional, termasuk pemanggangan dengan tungku, memberikan karakter rasa dan aroma yang tidak dapat ditiru oleh metode modern. Keberadaan Wingko Babat di etalase toko-toko oleh-oleh hingga dihidangkan sebagai camilan santai, menegaskan statusnya sebagai warisan budaya kuliner yang terus dijaga, menjadi penghubung rasa antara generasi masa lalu dan masa kini.

Tinggalkan Balasan