Megadewa88 portal,Jakarta – Kerangka kerja Transaksi Mata Uang Lokal atau Local Currency Transaction (LCT), sebuah inisiatif strategis yang digagas Bank Indonesia (BI) bersama sejumlah bank sentral negara mitra, menunjukkan hasil yang semakin solid. Hingga periode terakhir, nilai transaksi yang difasilitasi melalui skema ini berhasil menembus angka impresif sebesar US$16,4 juta. Pencapaian ini tidak hanya merefleksikan peningkatan volume perdagangan dan investasi bilateral, tetapi juga menandai penguatan adopsi LCT oleh para pelaku usaha sebagai alternatif yang lebih efisien dan stabil.

Kontekstualisasi Angka dan Tren Positif

Nilai transaksi setara US$16,4 juta, atau berkisar Rp254,2 miliar (dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS), merupakan akumulasi dari berbagai transaksi perdagangan dan investasi yang tidak lagi menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai perantara. Angka ini menjadi bukti konkret atas tumbuhnya kepercayaan dan minat sektor bisnis, baik eksportir, importir, maupun investor, untuk memanfaatkan fasilitas penyelesaian transaksi langsung menggunakan mata uang Rupiah dengan mata uang negara mitra, seperti Ringgit Malaysia, Baht Thailand, Yen Jepang, dan Yuan Tiongkok.

Peningkatan ini menandakan bahwa pelaku ekonomi semakin menyadari manfaat signifikan dari kerangka LCT, terutama dalam hal mitigasi risiko nilai tukar. Dengan menghilangkan kebutuhan untuk mengkonversi ke mata uang dolar AS terlebih dahulu, para pelaku usaha dapat meminimalisir eksposur terhadap volatilitas kurs dan mendapatkan biaya transaksi yang lebih kompetitif.

Membedah Manfaat Strategis Kerangka LCT

Pencapaian ini lebih dari sekadar angka statistik; ia merepresentasikan keberhasilan salah satu pilar bauran kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Secara fundamental, kerangka LCT dirancang untuk mencapai beberapa tujuan strategis. Pertama, mengurangi ketergantungan ekonomi nasional terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar AS. Diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional ini merupakan bagian dari agenda de-dolarisasi yang lebih luas, yang bertujuan untuk meningkatkan resiliensi sistem keuangan domestik.

Kedua, LCT secara langsung memberikan keuntungan efisiensi bagi dunia usaha. Proses transaksi yang lebih ringkas—dari Rupiah langsung ke mata uang negara tujuan—memangkas biaya konversi ganda dan potensi kerugian selisih kurs. Hal ini menciptakan kepastian biaya yang lebih besar bagi para pebisnis, memungkinkan mereka untuk melakukan kalkulasi dan perencanaan bisnis dengan lebih akurat.

Baca Juga: Luhut Menyikapi Isu Ekonomi Darurat yang Disampaikan AEI

Ketiga, keberhasilan implementasi LCT berkontribusi pada pendalaman pasar keuangan. Peningkatan permintaan terhadap mata uang Rupiah dan mata uang negara mitra di pasar valuta asing akan memperkaya instrumen yang tersedia dan pada gilirannya dapat membantu menstabilkan nilai tukar Rupiah dalam jangka panjang.

Proyeksi dan Perluasan Kemitraan di Masa Depan

Bank Indonesia, selaku otoritas moneter, terus berupaya memperluas cakupan kerja sama LCT dengan lebih banyak negara mitra. Keberhasilan yang tercermin dari nilai transaksi US$16,4 juta ini menjadi modal penting untuk meyakinkan negara-negara potensial lainnya akan manfaat mutualisme dari skema serupa. Perluasan jaringan LCT diyakini akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan regional dan global.

Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa fondasi untuk ekosistem transaksi lintas negara yang lebih efisien dan tangguh telah terbangun. Ke depannya, peningkatan volume transaksi melalui LCT diperkirakan akan terus berlanjut, seiring dengan semakin dalamnya pemahaman dan pemanfaatan oleh para pelaku usaha di seluruh sektor.