Megadewa88portal,JakartaBanjir Bandang dan longsor yang melanda Sumatera Utara (Sumut) sejak November 2025 menjadi bencana yang sangat memilukan. Dampak yang ditimbulkan tergolong luar biasa parah. Laporan BNPB per 27 November mencatat puluhan korban meninggal dan puluhan lainnya masih hilang.

Menurut para ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bencana ini bukan hanya disebabkan oleh curah hujan ekstrem semata. Bencana parah ini merupakan hasil interaksi dari tiga faktor utama yang terjadi bersamaan. Faktor tersebut adalah kondisi atmosfer aktif, kerusakan lingkungan, dan hilangnya kapasitas tampung wilayah.

Kerusakan paling parah melanda wilayah ekosistem Batang Toru. Wilayah ini meliputi Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.

Tiga Kunci yang Memperparah Dampak Bencana Hidrologi

Strategi percepatan ini dibangun di atas tiga pilar utama yang saling mendukung. Faktor Pertama: Curah hujan yang ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba. Wilayah Tapanuli berada pada puncak musim hujan. Curah hujan di wilayah ini mencapai lebih dari 150 milimeter. Bahkan, ada stasiun BMKG yang mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari.

Selain itu, pusaran dari Semenanjung Malaysia berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar. Siklon ini meningkatkan suplai uap air dan memperkuat awan hujan. Faktor Kedua: Kerusakan lingkungan dan deforestasi di hulu sungai.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut menuding aktivitas industri sebagai biang keladi utama. Penebangan hutan di kawasan Harangan Tapanuli yang masif membuat hutan kehilangan fungsi pentingnya. Hutan Harangan Tapanuli seharusnya berfungsi sebagai penyangga hidrologis alami.

Baca Juga : Tanpa Izin! Kapal Ilegal Indonesia Diamankan Usai Buru Teripang Australia

Faktor Ketiga: Hilangnya Kapasitas Tampung Wilayah. Penurunan tutupan vegetasi dan perubahan fungsi lahan memperburuk kondisi. Air yang melimpah karena curah hujan tinggi tidak bisa lagi tertahan secara alami di bagian hulu. Selain itu, rusaknya tata ruang di sepanjang aliran sungai juga memperparah potensi banjir bandang. Penyempitan dan pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS) juga menjadi masalah serius.

Temuan adanya gelondongan kayu besar yang hanyut terbawa arus banjir mendukung dugaan kerusakan hulu ini. Bencana ekologis muncul karena hilangnya fungsi hutan sebagai pencegah erosi. Oleh karena itu, banjir parah ini adalah kombinasi kompleks faktor alam dan campur tangan manusia yang merusak.