Megadewa88 portal,Tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan mengguncang masyarakat Papua setelah seorang ibu hamil, Irene Sokoy, beserta bayi yang dikandungnya dinyatakan meninggal dunia setelah diduga kuat ditolak oleh empat rumah sakit di wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura. Insiden tragis ini sontak memicu duka mendalam sekaligus kritik tajam terhadap carut-marutnya sistem pelayanan kesehatan darurat di Bumi Cenderawasih.

Peristiwa nahas yang terjadi pada Senin (17/11) dini hari tersebut bermula ketika Irene Sokoy, warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, yang berada dalam kondisi darurat persalinan, dilarikan oleh keluarganya ke sejumlah fasilitas kesehatan. Sayangnya, upaya penyelamatan itu berujung pada penolakan beruntun dari empat rumah sakit dengan berbagai alasan. Korban akhirnya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, sekitar pukul 05.00 WIT.
Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, dengan nada penuh keprihatinan menyatakan bahwa kematian Irene Sokoy dan bayinya merupakan sebuah tragedi yang menyayat hati masyarakat. “Empat rumah sakit diduga menolak korban. Hal ini sangat menyakitkan bagi kami, masyarakat merasa ditinggalkan oleh sistem kesehatan,” tegas Abraham Kabey. Kekecewaan yang lebih dalam diungkapkan oleh Neil Kabey, suami almarhumah, yang menyesalkan ketiadaan dokter saat istrinya membutuhkan penanganan medis segera. “Andai saat itu di RSUD Yowari ada dokter, saya yakin istri dan anak saya masih hidup,” ujar Neil penuh sesal. Ia mempertanyakan tidak adanya dokter pengganti padahal kondisi istrinya sudah sangat kritis.
Menanggapi bencana pelayanan publik ini, Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, segera menyampaikan permohonan maaf dan dukacita yang mendalam kepada keluarga korban. Dalam sebuah pernyataan resmi yang tegas, Gubernur Fakhiri mengakui bahwa insiden ini merupakan cerminan buruknya mutu pelayanan medis di Papua.
“Saya baru mau memulai tugas, tetapi Tuhan sudah memberikan satu contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di provinsi di Papua. Saya mohon maaf dan turut berduka yang mendalam atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah mulai dari atas sampai ke tingkat bawah. Ini kebodohan yang luar biasa yang dilakukan oleh pemerintah,” ungkap Matius Fakhiri.
Gubernur Fakhiri tidak hanya berhenti pada permintaan maaf. Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan komitmen perbaikan, ia berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan operasional seluruh rumah sakit yang berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Papua. Ia bahkan memberikan penekanan keras bahwa setiap direktur rumah sakit di bawah Pemprov akan diganti.
Baca Juga:Komnas HAM Kritik Potensi Pelanggaran HAM di KUHAP Baru
“Saya akan sampaikan ulang ke seluruh direktur rumah sakit dan kepala dinas kesehatan yang ada. Layani dulu pasiennya. Jangan bicara soal ruang penuh atau biaya. Nyawa manusia tidak bisa diperdebatkan,” tandasnya. Tragedi Irene Sokoy ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi Papua untuk segera membenahi sektor kesehatan, memastikan bahwa tidak ada lagi pasien gawat darurat yang ditolak oleh fasilitas medis, sesuai amanat undang-undang dan etika kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan