Megadewa88 portal,Intensitas curah hujan yang tinggi pada akhir pekan lalu telah kembali menyingkap kerentanan infrastruktur pengendalian banjir di Jakarta Selatan. Di kawasan Jatipadang, khususnya di Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, tanggul penahan air yang dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan “Tanggul Baswedan” dilaporkan mengalami kerusakan parah, mengakibatkan luapan air Kali Pulo merendam setidaknya lima Rukun Tetangga (RT). Kejadian ini memperlihatkan betapa krusialnya pembangunan infrastruktur mitigasi yang permanen dan kokoh dalam menghadapi kiriman air dari wilayah hulu.

Jebolnya Penghalang Vital di Kali Pulo

Tanggul yang berlokasi di wilayah RT 03/RW 06, Jati Padang—sebuah kawasan yang dikenal warga sebagai “Kampung Air” karena seringnya tergenang—tidak mampu membendung peningkatan debit air yang signifikan, diduga berasal dari kiriman air dari Depok. Puing-puing tanggul tersebut dilaporkan jebol pada Minggu sore, sekitar pukul 17.30 WIB, ketika hujan deras masih mengguyur. Kerusakan ini segera memicu derasnya aliran air yang menyerbu permukiman warga.

Ketinggian air yang merendam permukiman bervariasi, mencapai hingga lutut hingga paha orang dewasa di beberapa titik terendah. Tidak hanya rumah-rumah warga, banjir yang membawa serta lumpur juga dilaporkan merendam area fasilitas umum, termasuk Musala Sabili, yang mengalami kerusakan pada pagar dan kaca akibat terpaan arus air yang kuat.

Kekhawatiran Warga dan Solusi Sementara yang Rapuh

Bagi warga Jatipadang, insiden ini menambah daftar panjang kekhawatiran terhadap ancaman banjir musiman. Beberapa warga setempat menyebutkan bahwa tanggul di kawasan tersebut, sebelum dibangun secara lebih masif pada 2017—yang kemudian dijuluki ‘Tanggul Baswedan’ sebagai apresiasi kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atas perhatiannya—memang telah berulang kali jebol. Meskipun tanggul yang dibangun saat itu sempat dianggap efektif mengurangi banjir, jebolnya kembali struktur tersebut memunculkan desakan publik agar pemerintah segera merealisasikan solusi permanen.

Menanggapi bencana ini, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan bersama aparat terkait segera melakukan penanganan darurat di lokasi kejadian. Penanganan jangka pendek yang dilakukan adalah dengan menumpuk karung-karung berisi pasir dan tanah pada titik tanggul yang jebol, sebagai upaya untuk menahan laju air.

Tuntutan Normalisasi Kali Pulo

Namun, Ketua RT 03/RW 06, Burhan, menegaskan bahwa perbaikan sementara tidak cukup. Ia bersama warga lainnya menyuarakan tuntutan yang lebih mendasar, yaitu normalisasi Kali Pulo. Menurut penuturan warga, salah satu faktor utama yang memperparah luapan air adalah adanya penyempitan kali di beberapa titik yang disebabkan oleh bangunan-bangunan permanen di bantaran sungai, mengurangi lebar kali dari idealnya.

Baca Juga: Peluang Emas Siswa Sekolah Rakyat: Meraih Beasiswa Kuliah Penuh di China

Ketidakmampuan tanggul untuk bertahan menunjukkan bahwa masalah banjir di Jatipadang merupakan isu multi-dimensi yang tidak hanya dapat diatasi dengan pembangunan tembok, tetapi juga memerlukan intervensi hulu-ke-hilir, termasuk pelebaran dan pendalaman sungai yang terintegrasi. Sementara ini, puluhan Kepala Keluarga (KK) yang terdampak banjir terpaksa mengungsi di tempat penampungan sementara, seperti Masjid Al Ridwan, menunggu surutnya air dan selesainya upaya pembersihan rumah dari sisa lumpur.