Megadewa88portal,Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Yusril Ihza Mahendra, kembali menyoroti kualitas anggota DPR yang dinilai menurun. Ia menekankan bahwa banyaknya artis dan influencer yang masuk ke dunia politik menjadi salah satu faktor utama. Menurut Yusril, kehadiran figur populer ini membuat beberapa anggota legislatif lebih fokus pada popularitas ketimbang memahami permasalahan rakyat secara mendalam. Fenomena ini menjadi sorotan publik karena berdampak langsung pada kinerja dan kualitas kebijakan DPR.

Artis dan Influencer: Popularitas vs Kapasitas

Yusril menilai tren artis dan influencer terjun ke politik menunjukkan perubahan signifikan dalam sistem demokrasi di Indonesia. Popularitas kini menjadi salah satu faktor penentu kemenangan calon legislatif, bahkan sering kali lebih di utamakan daripada kapasitas, integritas, atau pengalaman dalam mengurus kepentingan publik. Padahal, DPR sebagai lembaga legislatif memiliki peran penting dalam pembuatan undang-undang, pengawasan pemerintah, dan memastikan aspirasi rakyat tersalurkan.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kualitas anggota legislatif saat ini. Yusril membandingkan dengan kondisi Pemilu 1999, di mana mayoritas anggota DPR di anggap memiliki pemahaman yang lebih matang tentang masalah sosial dan politik. Ia menekankan perlunya evaluasi sistem pemilu agar calon legislatif yang terpilih tidak semata-mata mengandalkan popularitas, melainkan juga kompetensi dan integritas.

Selain itu, kehadiran artis dan influencer di dunia politik juga berpotensi mempengaruhi citra DPR di mata publik. Banyak warga menilai bahwa legislatif kini lebih berfokus pada citra dan branding daripada substansi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi partai politik untuk memastikan kualitas kader yang benar-benar siap mengabdi kepada rakyat, bukan sekadar memanfaatkan popularitas demi kemenangan politik semata.

Baca Juga : Airlangga Tegaskan Satgas PHK Segera Direalisasikan

Dengan kondisi ini, masyarakat diharapkan lebih selektif dalam memilih wakil rakyat, mempertimbangkan kapasitas, pengalaman, dan integritas calon legislatif. Sementara itu, Yusril terus mendorong partai dan sistem pemilu untuk menyeimbangkan antara popularitas dan kualitas agar DPR mampu menjalankan fungsi legislatifnya dengan maksimal.