Megadewa88portal,Sunda – Tanah Pasundan, dengan keindahan alamnya yang menawan, tak hanya dikenal karena kekayaan budaya dan keramahan penduduknya. Lebih dari itu, Jawa Barat, atau Tatar Sunda, menyimpan harta karun kuliner yang begitu memikat, terutama dalam hal jajanan tradisional. Jajanan ini bukan sekadar camilan; mereka adalah bagian dari sejarah, identitas, dan warisan turun-temurun yang terus dilestarikan. Dari pedagang kaki lima hingga kafe-kafe modern, pesona jajanan Sunda terus memikat siapa saja yang mencicipinya. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami empat jajanan tradisional Sunda yang paling populer dan melegenda, yang dijamin akan membuat lidah Anda bergoyang dan rindu akan cita rasa otentik.
1. Cireng: Kriuk di Luar, Kenyal di Dalam

Cireng, singkatan dari “aci digoreng,” adalah primadona di antara jajanan berbahan dasar tepung tapioka atau aci. Jajanan ini lahir dari kreativitas masyarakat Sunda pada tahun 1970-an, ketika mereka memanfaatkan sisa-sisa tepung tapioka menjadi camilan yang lezat dan ekonomis. Awalnya, cireng dijual oleh pedagang kaki lima dan hanya berupa adonan aci yang digoreng hingga renyah. Namun, seiring berjalannya waktu, popularitasnya melonjak pesat di tahun 1980-an dan terus berkembang hingga kini.
Keunikan cireng terletak pada teksturnya yang kontras: bagian luarnya garing dan renyah, sementara bagian dalamnya tetap kenyal dan lembut. Awalnya, cireng hanya disajikan dengan bumbu tabur sederhana atau sambal kacang. Kini, variasi cireng semakin beragam, mulai dari cireng isi ayam, sosis, keju, hingga cireng bumbu rujak yang menawarkan perpaduan rasa manis, asam, dan pedas yang begitu menggugah selera. Cireng bumbu rujak menjadi favorit karena saus coelannya yang terbuat dari gula merah, cabai rawit, dan asam jawa menciptakan harmoni rasa yang sempurna. Jajanan sederhana ini membuktikan bahwa kreativitas dalam mengolah bahan lokal bisa menghasilkan kelezatan yang tak lekang oleh waktu.
2. Batagor: Bakso Tahu Goreng Legendaris dari Kota Kembang
![]()
Jika Anda berbicara tentang jajanan khas Bandung, batagor pasti menjadi salah satu yang terlintas di benak. Batagor, singkatan dari “bakso tahu goreng,” adalah inovasi kuliner yang lahir dari kearifan lokal untuk menghindari pemborosan. Menurut sejarah, batagor pertama kali dibuat oleh seorang pedagang bernama H. Ismail di Bandung pada tahun 1970-an. Ia ingin menciptakan hidangan baru dari sisa-sisa bakso dan tahu yang tidak laku dijual. Ide sederhana itu ternyata menghasilkan mahakarya.
Batagor biasanya terbuat dari campuran adonan ikan tenggiri dan tepung tapioka yang dimasukkan ke dalam tahu dan kulit pangsit, lalu digoreng hingga matang dan renyah. Berbeda dengan siomay yang dikukus, proses penggorengan inilah yang memberikan batagor tekstur khas yang tidak ada duanya. Setelah digoreng, batagor disajikan dengan siraman bumbu kacang yang kental dan lezat, perasan jeruk limau, dan kecap manis. Rasa gurih dari batagor goreng berpadu dengan manis dan pedasnya bumbu kacang, menciptakan sensasi rasa yang membuat siapa saja ketagihan. Batagor tidak hanya menjadi jajanan pinggir jalan, tetapi juga oleh-oleh wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke Bandung.
3. Colenak: Kudapan Manis Khas Priangan

Colenak, singkatan dari “dicocol enak,” adalah jajanan tradisional yang menawarkan perpaduan rasa manis, legit, dan gurih. Jajanan ini terbuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar, lalu disajikan dengan saus kinca (cairan gula merah) yang dicampur dengan parutan kelapa. Colenak diciptakan oleh seorang pedagang bernama Murdi di Bandung pada tahun 1930. Awalnya, jajanan ini diberi nama “peuyeum digulaan,” namun karena sering terdengar para pelanggan Belanda yang mengatakan “dicocol enak” saat memakannya, nama itu pun berubah menjadi “colenak.”
Proses pembuatannya sederhana namun menghasilkan rasa yang kompleks. Peuyeum singkong dibakar hingga permukaannya sedikit kering dan kecoklatan, mengeluarkan aroma harum yang khas. Kelembutan peuyeum yang hangat berpadu dengan manisnya saus kinca dan gurihnya parutan kelapa menciptakan sensasi rasa yang memanjakan lidah. Seiring perkembangan zaman, colenak juga hadir dengan variasi topping modern seperti keju atau durian, namun cita rasa otentik dari saus kinca original tetap menjadi favorit. Colenak adalah bukti bahwa kesederhanaan bahan baku tidak mengurangi kenikmatan dari sebuah hidangan.
4. Dodol Garut: Manisan Legit yang Tak Tergantikan

Dodol Garut adalah salah satu jajanan tradisional Sunda yang paling ikonik. Manisan ini berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, dan telah menjadi oleh-oleh khas yang mendunia. Dodol terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung ketan, gula merah, santan, dan gula pasir. Namun, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa.
Baca Juga: 4 Sajian Khas Padang Sidempuan yang Bikin Ketagihan
Pembuatan dodol Garut bisa memakan waktu berjam-jam, di mana adonan harus terus diaduk di atas api kecil hingga mengental, kalis, dan tidak lengket. Proses ini disebut “ngarames,” yang menjadi kunci untuk menghasilkan tekstur dodol yang kenyal, lembut, dan legit. Setiap gigitan dodol Garut menawarkan perpaduan rasa manis yang pas dan aroma kelapa yang harum.
Dodol Garut tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Pembuatannya sering kali dilakukan secara gotong royong, mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat. Selain rasa original, dodol Garut juga hadir dalam berbagai varian rasa, seperti cokelat, wijen, kacang, hingga buah-buahan, menunjukkan inovasi yang terus dilakukan tanpa meninggalkan esensi aslinya. Dodol adalah simbol dari ketekunan dan kebersamaan, yang menjadikannya lebih dari sekadar makanan.
Kekayaan Kuliner yang Terus Lestari
Empat jajanan di atas hanyalah sebagian kecil dari kekayaan kuliner Sunda. Masing-masing memiliki cerita unik, bahan baku sederhana, dan cita rasa yang tak terlupakan. Dari cireng yang renyah, batagor yang gurih, colenak yang manis, hingga dodol yang legit, jajanan-jajanan ini adalah warisan budaya yang patut kita lestarikan. Mencicipi jajanan tradisional Sunda bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, tetapi juga tentang merasakan sejarah dan kearifan lokal yang tersembunyi di setiap gigitannya. Bagi para pencinta kuliner, petualangan rasa di Tanah Pasundan akan selalu menjadi pengalaman yang tak pernah membosankan.

1 Komentar