Megadewa88portal,Jakarta – Gelombang aksi demonstrasi di berbagai kota Indonesia dalam beberapa waktu terakhir membawa luka sekaligus pesan solidaritas. Bagi sebagian orang, demonstrasi adalah ruang untuk menyalurkan aspirasi dan menuntut perubahan. Namun, di balik itu, tidak sedikit korban jiwa yang jatuh akibat ketegangan di lapangan. Tragedi yang menimpa pengemudi ojek daring Affan Kurniawan menjadi simbol betapa mahalnya harga demokrasi di negeri ini.

Musik Sebagai Media Peringatan dan Solidaritas
Di tengah suasana panas itu, band rock .Feast menjadikan panggung musik sebagai ruang penyampaian pesan sosial. Saat tampil di Pestapora 2025, mereka tidak hanya membawakan lagu, tetapi juga menyelipkan seruan kewaspadaan. Gitaris Adnan mengingatkan penonton untuk berhati-hati terhadap provokasi, karena situasi politik dan sosial sedang memanas. Pesan itu di sambut riuh penonton yang memahami kondisi tanah air saat ini.
Bukan hanya sekadar ucapan, .Feast juga memperlihatkan kepedulian nyata melalui visual panggung. Mereka menutup penampilan dengan lagu “Terbuang dalam Waktu” sambil menampilkan deretan nama korban demo di layar besar. Di ikuti dengan kalimat penuh makna: “Kalian Takkan Terbuang dalam Waktu” dan ucapan “Rest in Power” dari seluruh personel band. Aksi tersebut menjadi bentuk penghormatan publik yang emosional sekaligus simbol solidaritas bagi keluarga korban.
Apa yang dilakukan .Feast membuktikan bahwa musik bukan hanya hiburan, melainkan medium komunikasi sosial. Dari panggung, mereka mengajak anak muda untuk tidak mudah terprovokasi, menjaga kewarasan politik, sekaligus tetap mengingat mereka yang gugur. Di era ketika informasi cepat menyebar, pesan dari musisi bisa menjadi pengingat agar masyarakat tidak terseret dalam arus kebencian atau konflik horizontal.
Baca Juga : Influencer Serahkan 17+8 Tuntutan Rakyat ke DPR: Suara Digital Menguat di Senayan
Pada akhirnya, langkah .Feast menunjukkan bahwa budaya populer memiliki peran besar dalam memperkuat demokrasi. Mereka menyuarakan bahwa duka harus dikenang, bukan dipolitisasi. Dengan cara itu, ruang publik tetap sehat, dan generasi muda bisa terus berjuang tanpa kehilangan arah solidaritas.

1 Komentar