Megadewa88portal,Jakarta – Krisis sedang menghantam petani tebu di Jember, Jawa Timur. Ribuan ton gula hasil panen petani menumpuk di gudang karena gagal terserap pasar. Sekitar 8.500 ton gula di PG Semboro Jember tidak laku dilelang, membuat petani kehilangan harapan mendapatkan uang tunai dari hasil kerja keras mereka. Situasi ini memunculkan kekhawatiran besar, apalagi musim tanam baru sudah menunggu modal.

Petani mengaku bingung karena seharusnya gula hasil panen bisa cepat terserap oleh pasar. Namun, kondisi saat ini justru sebaliknya: harga jatuh dan pembeli enggan melirik. Mereka menilai ada masalah serius dalam sistem distribusi gula di Indonesia. Banyak yang menduga bahwa gula rafinasi untuk industri malah bocor ke pasar umum, sehingga menekan harga gula petani.

Dugaan Rafinasi Jadi Biang Kerok Penumpukan

Keluhan serupa tidak hanya datang dari Jember, tetapi juga dari daerah lain di Jawa Timur. Di Situbondo dan Bondowoso, ribuan ton gula petani juga menumpuk di gudang tanpa pembeli. Harga gula rafinasi yang jauh lebih murah membuat gula petani kalah bersaing. Padahal, rafinasi seharusnya hanya di pakai oleh industri makanan dan minuman, bukan di jual langsung ke masyarakat.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Timur, Sunardi Edi Sukamto, menegaskan kondisi ini sangat merugikan. Menurutnya, banyak petani terpaksa berutang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari maupun modal tanam berikutnya. Bahkan ada yang menjual aset demi bisa bertahan hidup. Ia meminta pemerintah segera melakukan langkah nyata, termasuk sweeping pasar untuk menghentikan peredaran gula rafinasi ilegal.

Selain itu, pemerintah juga di minta mempercepat realisasi dana talangan melalui skema Danantara senilai Rp 1,5 triliun. Dana ini diharapkan bisa membantu pabrik gula membeli hasil panen petani. Namun hingga kini, pencairan dana tersebut belum jelas waktunya. Akibatnya, petani semakin frustrasi karena menunggu tanpa kepastian.

Baca juga : Ricuh Demo 25 Agustus: Motor Dibakar, Pos Polisi Diserang

Kondisi yang berlarut-larut ini berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional. Jika petani kehilangan semangat menanam tebu, produksi gula dalam negeri bisa merosot tajam. Situasi ini akan membuka celah lebih besar bagi impor gula yang justru memperparah ketergantungan. Petani meminta agar pemerintah benar-benar berpihak, bukan hanya memberikan janji.

Petani tebu Jember dan sekitarnya kini menanti langkah konkret. Mereka butuh kepastian harga, perlindungan dari praktik pasar yang tidak adil, serta jaminan bahwa gula rafinasi tidak lagi membanjiri pasar umum. Jika masalah ini segera ditangani, bukan hanya petani yang terbantu, tetapi juga konsumen dan stabilitas pangan nasional. Masa depan industri gula lokal sangat bergantung pada keberanian pemerintah menertibkan pasar.