Megadewa88 portal,Jakarta – Tren penggunaan alat bantu tidur non-medis belakangan ini kian marak, salah satunya adalah plester mulut yang diklaim mampu mengurangi intensitas dengkuran saat tidur dengan memaksa penggunanya bernapas melalui hidung. Namun, di tengah popularitasnya di media sosial dan platform kesehatan, para ahli dan studi ilmiah terbaru memberikan tanggapan yang sangat hati-hati, bahkan cenderung skeptis, terhadap efektivitas dan keamanan klaim tersebut.

Penelitian dan analisis klinis terkini menunjukkan bahwa manfaat signifikan yang dikaitkan dengan penggunaan plester mulut untuk mengatasi masalah dengkuran saat tidur belum memiliki basis bukti ilmiah yang kuat. Praktik ini, meskipun didasarkan pada asumsi bahwa bernapas melalui hidung lebih baik, ternyata tidak mengatasi akar masalah dengkuran yang sesungguhnya.

Menganalisis Mekanisme dan Batasan Plester Mulut

Konsep di balik penggunaan plester mulut adalah untuk mencegah pernapasan mulut selama tidur. Secara teori, penutupan mulut akan mendorong pernapasan nasal, yang diklaim dapat mengurangi vibrasi jaringan lunak di tenggorokan, yaitu penyebab utama dengkuran.

Namun, para spesialis tidur menjelaskan bahwa dengkuran seringkali merupakan gejala dari masalah yang lebih kompleks, seperti:

  1. Obstruksi Saluran Napas Atas: Dengkuran terjadi karena penyempitan saluran udara yang disebabkan oleh posisi lidah, tonsil yang membesar, atau jaringan lunak yang rileks saat tidur. Plester mulut tidak dapat memperbaiki penyempitan fisik ini.
  2. Apnea Tidur Obstruktif (OSA): Pada kasus yang lebih serius, dengkuran adalah indikator OSA, suatu kondisi medis di mana pernapasan terhenti berulang kali. Jika seseorang dengan OSA menggunakan plester mulut, hal itu justru berpotensi memperburuk kondisi kekurangan oksigen (hipoksia) karena membatasi satu-satunya jalur udara darurat.

Para ahli menyimpulkan bahwa plester mulut tak terbukti efektif karena alat tersebut hanya mengatasi gejala di permukaan (pernapasan mulut) tanpa menyentuh patologi dasar yang menyebabkan obstruksi dan vibrasi.

Peringatan Klinis: Risiko dan Efek Samping

Selain tak terbukti mengurangi dengkuran, para profesional kesehatan juga menyuarakan kekhawatiran serius mengenai potensi risiko yang ditimbulkan oleh plester mulut, terutama bagi individu yang tidak menyadari bahwa mereka menderita OSA.

  • Peningkatan Tekanan Pernapasan: Memaksa seseorang dengan saluran hidung tersumbat (misalnya karena alergi atau septum deviasi) untuk bernapas melalui hidung sepanjang malam dapat meningkatkan usaha pernapasan, yang justru mengganggu kualitas tidur.
  • Risiko Medis: Jika individu dengan OSA yang parah menggunakan plester mulut, hal ini dapat berbahaya karena menghilangkan pernapasan mulut sebagai mekanisme pertahanan tubuh darurat. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang lebih drastis dan membahayakan kesehatan kardiovaskular.

Baca Juga:Wamenkes ungkap puskesmas masih kekurangan dokter

Oleh karena itu, plester mulut tak terbukti sebagai solusi universal dan tidak boleh digunakan tanpa konsultasi medis. Para ahli merekomendasikan pendekatan yang lebih teruji, seperti perubahan gaya hidup, terapi posisi, atau perangkat medis yang dirancang khusus seperti Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) atau alat oral yang disesuaikan, untuk mengatasi masalah dengkuran saat tidur yang signifikan. Masyarakat diimbau untuk selalu memprioritaskan diagnosis klinis sebelum mencoba solusi non-medis yang tak terbukti secara ilmiah.