
Megadewa88portal.com – Ribuan warga memadati kawasan Lokawisata Baturraden dalam acara Grebeg Sura Baturraden 2026. Tradisi budaya tahunan ini menghadirkan arak-arakan gunungan hasil bumi setinggi sekitar lima meter dan berhasil menarik perhatian masyarakat serta wisatawan.
Warga datang sejak Minggu pagi (12/6/2026) untuk menyaksikan prosesi budaya yang membawa pesan rasa syukur atas hasil pertanian masyarakat sekitar. Antusiasme terlihat ketika rombongan membawa gunungan dari kawasan wana wisata menuju lokasi utama dengan jarak sekitar satu kilometer.
Masyarakat memenuhi sepanjang jalur perjalanan untuk melihat kemegahan gunungan yang berisi berbagai hasil bumi, seperti gabah dan aneka sayuran. Mereka juga menunggu momen perebutan gunungan yang menjadi bagian paling ditunggu dalam tradisi Grebeg Sura.
Prosesi Grebeg Sura Baturraden Diawali Ziarah dan Larung Sesaji
Panitia bersama masyarakat memulai rangkaian acara dengan prosesi ziarah ke kawasan petilasan bawah. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah dan nilai budaya yang berkembang di wilayah Baturraden.
Setelah ziarah selesai, masyarakat melanjutkan acara dengan larung sesaji di Sungai Gumiwang yang berada dalam kawasan lokawisata. Warga membawa sesaji dan mengikuti doa bersama sebelum memasuki acara utama.
Setelah doa selesai, masyarakat langsung bergerak menuju gunungan hasil bumi. Ribuan warga berebut mengambil hasil pertanian yang tersusun rapi di atas gunungan tersebut.
Baca Juga : Bandara Husein Sastranegara Buka Lagi September 2026
Gunungan Hasil Bumi Ludes dalam Waktu Kurang dari Lima Menit
Ribuan peserta menunjukkan antusiasme tinggi saat perebutan gunungan dimulai. Warga berusaha mendapatkan berbagai hasil bumi yang mereka percaya membawa keberkahan bagi keluarga.
Dalam waktu kurang dari lima menit, warga berhasil mengambil seluruh isi gunungan. Warga langsung membawa pulang gabah, kacang panjang, pare, daun bawang, dan berbagai sayuran lainnya.
Suasana perebutan berlangsung sangat ramai. Beberapa warga bahkan menaiki gunungan untuk mengambil hasil bumi yang berada di bagian atas. Meski beberapa peserta sempat terjatuh akibat padatnya kerumunan, masyarakat tetap menikmati acara dengan penuh kegembiraan.
Salah seorang warga Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Utami, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi tersebut. Ia merasa senang karena berhasil membawa pulang beberapa hasil bumi dari gunungan.
“Seru tadi rebutan gunungannya. Saya dapat kacang panjang, pare sama daun bawang. Nanti mau dimasak. Ini baru pertama kali datang ke acara Grebeg Sura,” ujar Utami.
Warga Desa Pabuwaran, Praptini, juga mengaku bahagia mengikuti tradisi tersebut. Ia mengatakan masyarakat tetap bersemangat meski harus berdesakan demi mendapatkan hasil bumi.
“Ini nanti buat dimasak. Tadi sempat terinjak-injak waktu rebutan gunungan, tapi tidak apa-apa. Demi dapat hasil bumi ini, ngalap berkah,” ujar Praptini.
Grebeg Sura Jadi Daya Tarik Wisata Baturraden
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas, Junaidi, menjelaskan bahwa Grebeg Sura menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Lokawisata Baturraden.
Menurut Junaidi, kehadiran wisatawan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Pelaku usaha lokal, pedagang, dan masyarakat sektor pariwisata mendapatkan peluang ekonomi dari meningkatnya aktivitas wisata.
Selain mendorong sektor ekonomi, Grebeg Sura juga membantu masyarakat menjaga keberadaan seni budaya Banyumas. Festival ini menampilkan berbagai pertunjukan seperti tari lengger dan barongsai yang menghibur para pengunjung.
“Ini adalah seni budaya yang harus terus diuri-uri. Tugas pemerintah memberikan fasilitasi agar seni budaya yang berkembang di Banyumas tetap hidup dan dilestarikan,” ujar Junaidi.
Tradisi Grebeg Sura Perkuat Semangat Gotong Royong
Grebeg Sura Baturraden tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan sosial warga. Masyarakat dari berbagai desa sekitar Baturraden ikut membantu pelaksanaan acara, termasuk membuat gunungan hasil bumi.
Warga menggunakan gunungan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang mereka peroleh. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana warga Banyumas menjaga budaya daerah melalui semangat gotong royong dan kebersamaan.
“Ini bentuk gotong royong bersama. Gunungan menjadi simbol rasa syukur kepada Allah atas hasil bumi yang dihasilkan masyarakat sekitar Baturraden. Harapannya masyarakat semakin guyub, rukun, bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan pariwisata,” kata Junaidi.
Grebeg Sura Baturraden Jadi Ikon Budaya Banyumas
Kemeriahan Grebeg Sura Baturraden menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik besar bagi masyarakat. Acara ini tidak hanya menghibur warga, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Banyumas kepada wisatawan.
Melalui kegiatan budaya seperti Grebeg Sura, masyarakat terus mengenalkan Baturraden sebagai destinasi wisata unggulan. Tradisi tahunan ini sekaligus memperlihatkan bahwa nilai budaya, kebersamaan, dan gotong royong tetap tumbuh di tengah perkembangan zaman.
- Acara Budaya Banyumas
- Banyumas
- Baturraden
- Budaya Jawa Tengah
- Budaya Lokal Indonesia
- Event Banyumas
- Festival Budaya Banyumas
- Festival Tradisional
- Grebeg Sura 2026
- Grebeg Sura Banyumas
- Grebeg Sura Baturraden
- Gunungan Baturraden
- Gunungan Hasil Bumi
- Kesenian Banyumas
- Lokawisata Baturraden
- Pariwisata Banyumas
- Tradisi Banyumas
- Tradisi Jawa Tengah
- Wisata Baturraden
- Wisata Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan