Surabaya – Setiap tanggal 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi dan Pangan Nasional (HGN), sebagai momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan gizi seimbang guna menunjang kualitas hidup yang lebih baik.
MEGADEWA88 PORTAL,Surabaya – Peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial semata, melainkan menjadi kesempatan strategis untuk mengedukasi publik tentang peran gizi dalam mencegah berbagai masalah kesehatan, khususnya yang masih menjadi tantangan di Indonesia, seperti malnutrisi.
“Permasalahan gizi yang kita hadapi hingga kini masih berkisar pada malnutrisi pada anak, khususnya bayi dan balita, salah satunya adalah stunting yang angkanya masih cukup tinggi,” jelas Paramita Viantry, S.Gz, RD., M.Biomed., Dosen Program Studi S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (25/1).
Baca Juga: Wabah Flu Burung di Kamboja: Menilai Potensi Pandemi
Ia menambahkan, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,5%, yang berarti sekitar satu dari lima balita mengalami pertumbuhan terhambat.
“Sementara itu, kasus gizi kurang berada di angka 7,4%. Sebenarnya, kalau kita ingin mencegah stunting, penanganan harus dimulai dari kasus gizi kurang terlebih dahulu. Kalau sudah masuk tahap stunting, berarti sudah terlambat dari sisi pencegahan,” jelasnya lebih lanjut.
Tak hanya kekurangan gizi, Indonesia juga dihadapkan pada masalah kelebihan gizi seperti obesitas pada anak.
Baca Juga: Rabies di Timor-Leste: Ancaman Senyap Kesehatan Masyarakat
“Semua permasalahan ini sangat dipengaruhi oleh pola makan. Kalau mengacu pada panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan, kita mengenal konsep ‘Isi Piringku’,” ujarnya.
Paramita menjelaskan bahwa ‘Isi Piringku’ menggambarkan komposisi ideal dalam satu piring makanan, yaitu setengah piring berisi sayur dan buah, sedangkan setengahnya lagi terdiri dari karbohidrat dan protein. Panduan ini juga menganjurkan untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak harian.
“Konsep ini sudah mencakup seluruh elemen gizi yang dibutuhkan tubuh,” tambahnya.
Selain dari pola makan, faktor pola asuh juga sangat berperan dalam menentukan status gizi anak. Paramita menyoroti bahwa banyak orang tua, khususnya ibu yang bekerja, cenderung memberikan makanan seadanya dengan alasan praktis.
“Namun bukan berarti ibu bekerja tidak bisa memberikan makanan bergizi untuk anaknya. Justru dengan pemahaman yang baik, ibu bisa menyesuaikan asupan sesuai kebutuhan anak,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa panduan seperti Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) dapat membantu orang tua memahami kebutuhan gizi anak sejak dini. PMBA merupakan pedoman penting dalam memberikan nutrisi optimal bagi anak usia 0 hingga 24 bulan, fase krusial bagi tumbuh kembang mereka.

Tinggalkan Balasan