Megadewa88portal.comOtoritas Jasa Keuangan (OJK)
melihat fasilitas kredit senilai Rp 2.575 triliun yang belum debitur ambil sebagai peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan kredit perbankan nasional.

Industri perbankan memakai istilah undisbursed loan untuk menjelaskan fasilitas tersebut. Istilah ini menggambarkan kredit yang telah bank setujui, tetapi nasabah belum mengambil seluruh dana yang tersedia.

OJK menilai kondisi tersebut menunjukkan ruang ekspansi bisnis yang masih terbuka. Angka itu juga memperlihatkan kesiapan perbankan dalam menyediakan pembiayaan ketika dunia usaha mencari tambahan modal.

OJK Optimistis Pertumbuhan Kredit Akan Terus Meningkat

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan debitur masih memiliki peluang besar untuk menarik fasilitas kredit sesuai kebutuhan bisnis.

Menurut Dian, perusahaan dapat memakai fasilitas tersebut untuk membiayai investasi, mengembangkan usaha, atau memenuhi kebutuhan operasional.

“Memang relatif tinggi saat ini. Namun kami melihat kondisi tersebut masih menunjukkan potensi pemanfaatan untuk ekspansi usaha sesuai timeline yang dimiliki masing-masing debitur,” ujar Dian dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK, Selasa (7/7/2026).

OJK melihat perbaikan ekonomi, stabilitas pasar, dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha mampu memperkuat permintaan kredit pada masa mendatang.

Baca Juga: Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi US$145,6 Miliar

Kredit Perbankan Tumbuh 11,51 Persen pada Mei 2026

Industri perbankan mencatat kinerja positif hingga Mei 2026. OJK mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 8.918 triliun.

Nilai tersebut tumbuh sebesar 11,51 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan ini meningkat dari April 2026 yang mencapai 9,98 persen YoY.

Perbankan terus memperkuat fungsi intermediasi dengan menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat dan sektor usaha.

OJK melihat fasilitas kredit yang belum debitur ambil dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ketika perusahaan mulai menjalankan proyek investasi dan memperluas bisnis.

Kredit Investasi Menjadi Penggerak Utama Pertumbuhan

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Perbankan mencatat kredit investasi tumbuh sebesar 21,95 persen YoY.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan banyak perusahaan mulai meningkatkan aktivitas ekspansi. Pelaku usaha membutuhkan pembiayaan untuk membangun fasilitas baru dan meningkatkan kapasitas produksi.

Sementara itu, kredit modal kerja mencatat pertumbuhan sebesar 8,09 persen YoY. Kredit ini membantu perusahaan memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari.

Kredit konsumsi juga mengalami peningkatan sebesar 5,89 persen YoY. Namun, segmen ini memiliki pertumbuhan paling rendah daripada kredit investasi dan modal kerja.

Kredit Korporasi Tetap Menjadi Motor Utama

Sektor korporasi masih menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit nasional. Perbankan mencatat kredit kepada perusahaan besar tumbuh sebesar 18,39 persen YoY hingga Mei 2026.

Pertumbuhan kredit korporasi menunjukkan aktivitas bisnis skala besar tetap berjalan kuat. Perusahaan terus mencari pembiayaan untuk ekspansi dan pengembangan usaha.

Di sisi lain, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan perbaikan. Kredit UMKM tumbuh sebesar 0,6 persen YoY pada Mei 2026.

Pertumbuhan tersebut meningkat dari April 2026 yang hanya mencapai 0,16 persen YoY. Perbaikan ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan pembiayaan usaha kecil.

Bank BUMN Catat Pertumbuhan Kredit Tertinggi

Kelompok bank BUMN mencatat pertumbuhan kredit tertinggi daripada kelompok perbankan lainnya.

Bank BUMN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 15,98 persen secara tahunan hingga Mei 2026.

Capaian tersebut memperlihatkan kontribusi besar bank pemerintah dalam menyalurkan pembiayaan untuk sektor produktif serta menjaga momentum ekonomi nasional.

Dengan nilai fasilitas kredit Rp 2.575 triliun yang belum debitur ambil, OJK melihat peluang pertumbuhan kredit perbankan masih sangat terbuka.

Debitur dapat menarik fasilitas tersebut ketika kebutuhan bisnis meningkat. Kondisi ini mampu memperkuat penyaluran kredit dan mendukung perkembangan sektor riil.

OJK berharap pertumbuhan kredit yang sehat terus berlanjut. Perbankan yang kuat akan membantu menjaga stabilitas ekonomi serta mempercepat pertumbuhan nasional.