Megadewa88portal.com Ketegangan kembali meningkat di kompleks Masjid Al-Aqsa. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dilaporkan turut berada di antara ribuan warga Yahudi yang memasuki kompleks situs suci tersebut pada Kamis (23/7/2026).
Aksi tersebut berlangsung dengan pengawalan ketat aparat kepolisian Israel. Lebih dari 4.000 massa Yahudi disebut ikut memasuki kawasan kompleks Al-Aqsa dalam rangka memperingati Tisha B’Av, salah satu hari penting dalam kalender keagamaan Yahudi.

Situasi menjadi sorotan karena polisi Israel disebut memberikan izin kepada sebagian massa untuk melakukan ritual keagamaan Yahudi di dalam kompleks tersebut.
Perkembangan ini dinilai sebagai salah satu perubahan paling signifikan terhadap pengaturan atau status quo yang selama puluhan tahun menjadi dasar pengelolaan situs suci tersebut.
Ritual Keagamaan Yahudi di Al-Aqsa Jadi Sorotan
Ismail Patel, pendiri sekaligus ketua organisasi Friends of Al-Aqsa, menilai kejadian tersebut memiliki arti penting karena praktik ibadah Yahudi di dalam kompleks Al-Aqsa sebelumnya tidak diperbolehkan secara resmi.
Menurut Patel, dalam beberapa tahun terakhir memang telah terjadi perubahan dalam praktik di lapangan. Namun, ia menilai apa yang terjadi pada Kamis kali ini memiliki skala yang berbeda.
“Apa yang diizinkan polisi Israel hari ini tidak memiliki preseden sejak tahun 1967,” ujar Patel, seperti dikutip The New Arab.
Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun terdapat pemahaman bahwa umat non-Muslim dapat mengunjungi kompleks tersebut, tetapi tidak diperbolehkan melakukan ritual ibadah secara terbuka.
Patel menilai perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan besar dalam penerapan aturan tersebut.
Menurut laporan Haaretz, sejumlah massa Yahudi disebut melakukan ritual keagamaan di beberapa area kompleks yang sebelumnya menjadi lokasi pembatasan aktivitas semacam itu.
Lebih dari 1.000 Pengunjung Masuk pada Pagi Hari
Kelompok aktivis Temple Mount menyebut jumlah pengunjung Yahudi yang memasuki kompleks Al-Aqsa pada Kamis pagi telah mencapai lebih dari 1.000 orang.
Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring berlangsungnya peringatan Tisha B’Av.
Baca Juga Pertumbuhan Ekonomi Cina Melambat Jadi 4,3 Persen
Sejumlah foto yang beredar dari kelompok aktivis menunjukkan beberapa jamaah Yahudi melakukan doa di dalam area kompleks. Dalam perkembangan lainnya, anggota parlemen dari Partai Likud Amit Halevi dan kepala Administrasi Temple Mount, Rabbi Shimshon Elboim, dilaporkan turut berada di lokasi.
Keduanya disebut mengibarkan bendera Israel dan menyanyikan lagu kebangsaan Israel.
Peristiwa tersebut kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah pihak yang menilai tindakan tersebut dapat memperburuk ketegangan di kawasan Yerusalem.

Dianggap Sebagai Perubahan Kebijakan Pemerintah
Patel menilai aksi tersebut bukan sekadar aktivitas kelompok aktivis atau individu tertentu. Ia menduga peristiwa itu mencerminkan perubahan kebijakan yang lebih luas di tingkat pemerintahan Israel.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Januari yang disebut mengonfirmasi bahwa Ben-Gvir bertindak dalam koordinasi dengan pemerintah.
Menurut Patel, terdapat perbedaan antara pernyataan resmi pemerintah Israel yang menyatakan status quo tetap dipertahankan dan apa yang terjadi di lapangan.
“Pemerintah Israel terus mengatakan kepada dunia bahwa status quo tidak berubah, sementara para menterinya berdiri di Al-Aqsa mengumumkan bahwa status quo telah berubah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran mengenai masa depan pengaturan akses dan aktivitas keagamaan di kompleks Al-Aqsa.
Status Quo Al-Aqsa Kembali Diperdebatkan
Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Islam. Kawasan tersebut berada di Yerusalem Timur, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967 dan selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Dalam pengaturan status quo yang selama ini berlaku, umat Islam memiliki hak untuk menjalankan ibadah di kompleks tersebut. Sementara itu, pengunjung non-Muslim diperbolehkan datang pada waktu dan kondisi tertentu, tetapi tidak diperbolehkan melakukan ritual keagamaan secara terorganisir.
Pemerintah Israel di bawah Netanyahu berulang kali menyatakan komitmennya untuk mempertahankan pengaturan tersebut.
Namun, Palestina dan Yordania selama ini berulang kali menuduh bahwa aturan tersebut secara perlahan mengalami perubahan dalam praktiknya.
Baca Juga Mercedes Temukan Biang Masalah Mobil George Russell, Perbaikan Siap Dipakai di GP Hungaria
Peace Now Khawatir Ketegangan Makin Meluas
Organisasi non-pemerintah Israel, Peace Now, turut mengecam aksi yang terjadi di kompleks Al-Aqsa.
Mereka memperingatkan bahwa tindakan yang dianggap sebagai provokasi di situs keagamaan tersebut berpotensi memperbesar ketegangan dan memicu konflik baru.
Menurut organisasi tersebut, situasi di sekitar Al-Aqsa sangat sensitif karena setiap perubahan atau tindakan provokatif dapat menimbulkan reaksi luas, baik di Yerusalem maupun di kawasan Timur Tengah.
Patel juga mengingatkan bahwa ketegangan di sekitar Al-Aqsa memiliki sejarah panjang dalam memicu eskalasi konflik.
Ia menyinggung sejumlah peristiwa sebelumnya, termasuk kunjungan Ariel Sharon ke kompleks tersebut pada 2000, pemasangan detektor logam pada 2017, serta ketegangan pada Mei 2021.
Menurutnya, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa perkembangan di Al-Aqsa tidak dapat dipandang sebagai persoalan lokal semata.

Puluhan Ribu Warga Israel Berkumpul di Tembok Barat
Di tengah situasi tersebut, puluhan ribu warga Israel juga berkumpul di kawasan Tembok Barat dan sekitarnya untuk memperingati Tisha B’Av.
Sementara itu, kepolisian Israel melaporkan telah menangkap 16 orang yang diduga terlibat dalam sejumlah aksi pelanggaran hukum.
Para tersangka tersebut disebut terkait dengan tindakan vandalisme di sekitar pemakaman Muslim serta dugaan serangan terhadap warga Palestina di kawasan Kota Tua Yerusalem.
Perkembangan ini kembali menempatkan kompleks Al-Aqsa sebagai pusat perhatian internasional. Dengan tingginya sensitivitas kawasan tersebut, setiap perubahan dalam penerapan aturan keagamaan dan akses terhadap situs suci berpotensi memicu reaksi politik maupun keamanan yang lebih luas.
Bagi banyak pihak, situasi terbaru ini menjadi ujian terhadap keberlangsungan status quo yang selama ini menjadi salah satu fondasi untuk menjaga ketenangan di kompleks Al-Aqsa.

Tinggalkan Balasan