Megadewa88portal.comPT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance)
mencatatkan penerbitan obligasi sebesar Rp2,3 triliun sepanjang Semester I 2026. Perusahaan menggunakan aksi pendanaan tersebut untuk memperkuat operasional dan mendukung rencana ekspansi bisnis.

Direktur Keuangan WOM Finance, Cincin Lisa, mengatakan penerbitan obligasi tersebut berasal dari dua instrumen surat utang. Pertama, perusahaan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V WOM Finance Tahap III Tahun 2026 senilai Rp1,5 triliun.

Selain itu, WOM Finance juga menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VI WOM Finance Tahap I Tahun 2026 dengan nilai mencapai Rp784 miliar.

Cincin menjelaskan bahwa perusahaan akan menggunakan dana tersebut untuk mendukung kegiatan operasional. Selain itu, dana obligasi juga membantu perusahaan menjalankan strategi pengembangan usaha ke depan.

WOM Finance Tetap Pertimbangkan Penerbitan Obligasi Baru

WOM Finance masih membuka peluang untuk menerbitkan obligasi tambahan pada periode berikutnya. Namun, perusahaan akan mengambil keputusan secara lebih selektif dan mempertimbangkan kondisi pasar.

Cincin menyebut tingkat suku bunga acuan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan strategi penerbitan obligasi. Saat ini, Bank Indonesia menetapkan BI Rate pada level 5,75%.

Kenaikan suku bunga tersebut membuat biaya pendanaan industri multifinance meningkat. Oleh karena itu, perusahaan pembiayaan perlu menghitung kebutuhan dana secara lebih matang sebelum masuk ke pasar obligasi.

“Kenaikan suku bunga acuan yang tinggi membuat multifinance lebih berhati-hati dalam menerbitkan obligasi,” ujar Cincin.

Selain BI Rate, WOM Finance juga memperhatikan perkembangan kupon obligasi. Menurut perusahaan, tren kupon saat ini bergerak naik mengikuti peningkatan suku bunga.

Beberapa faktor lain juga memengaruhi pergerakan kupon obligasi. Faktor tersebut meliputi likuiditas pasar, tingkat inflasi, minat investor, dan peringkat kredit perusahaan.

Baca Juga: Pengelolaan Rekening BRI 2026: Cegah Rekening Dormant

Penerbitan Obligasi Multifinance Melambat pada 2026

Industri multifinance menghadapi perlambatan penerbitan surat utang sepanjang 2026. Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan nilai penerbitan surat utang multifinance hingga Juni 2026 mencapai Rp12,93 triliun.

Angka tersebut masih berada di bawah realisasi penerbitan sepanjang 2025 yang mencapai Rp38,18 triliun.

Jika nilai penerbitan Semester I 2026 dihitung secara tahunan, totalnya diperkirakan mencapai Rp25,86 triliun. Nilai tersebut turun sekitar 32,3% dibandingkan realisasi penuh tahun sebelumnya.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai perlambatan tersebut terjadi karena industri pembiayaan menghadapi dua kondisi yang berbeda.

Di satu sisi, perusahaan multifinance tetap membutuhkan pendanaan. Pasalnya, pertumbuhan piutang pembiayaan masih berjalan dan membutuhkan dukungan modal.

Di sisi lain, kenaikan BI Rate membuat perusahaan harus menghadapi biaya dana yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam menentukan strategi pendanaan.

“Perusahaan pembiayaan cenderung lebih selektif dalam menentukan waktu, tenor, dan jumlah penerbitan obligasi,” ujar Ahmad.

Strategi Pendanaan Jadi Kunci Pertumbuhan WOM Finance

Penerbitan obligasi tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi perusahaan multifinance untuk mendapatkan sumber pendanaan jangka menengah dan panjang.

Bagi WOM Finance, penerbitan obligasi Rp2,3 triliun menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga kebutuhan likuiditas. Langkah tersebut juga mendukung pertumbuhan bisnis pembiayaan secara berkelanjutan.

Ke depan, WOM Finance akan terus melihat perkembangan pasar sebelum menerbitkan obligasi baru. Perusahaan ingin memastikan setiap aksi pendanaan memberikan manfaat optimal bagi bisnis.

Dengan strategi pendanaan yang tepat, WOM Finance berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha, efisiensi biaya dana, dan stabilitas keuangan perusahaan.

Di tengah kondisi suku bunga tinggi, kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber pendanaan menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya saing industri multifinance.