Megadewa88portal.com – Rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp18.070 per dolar AS. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam di antara mata uang utama Asia pada sesi perdagangan pagi.
Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung terbatas. Berdasarkan data perdagangan internasional hingga pukul 02.03 GMT, pasar menempatkan rupiah di level Rp18.070 per dolar AS. Angka tersebut turun 0,44% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.990 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Kondisi itu membuat Indonesia mencatat pelemahan mata uang terbesar di antara negara-negara utama Asia.
Rupiah Menjadi Mata Uang Asia dengan Kinerja Terburuk
Rupiah memimpin daftar mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini. Posisi tersebut memperlihatkan tekanan terhadap mata uang Indonesia masih lebih besar dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Won Korea Selatan turun 0,30% ke level 1.506,90 won per dolar AS. Dolar Taiwan melemah 0,20%. Baht Thailand turun 0,18%. Peso Filipina terkoreksi 0,08%. Ringgit Malaysia hanya melemah 0,02%. Sementara itu, rupee India bergerak stabil.
Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,09% ke level 162,43 yen per dolar AS. Yuan China naik 0,13% menjadi 6,796 yuan per dolar AS. Dolar Singapura juga menguat 0,07%.
Pergerakan tersebut menunjukkan kondisi mata uang Asia belum seragam. Sebagian mata uang melemah, sementara yang lain justru menguat terhadap dolar AS. Baca Juga: Penghapusan Pajak JHT Dibahas Purbaya dan Said Iqbal
Depresiasi Rupiah Sejak Awal Tahun Capai 7,75%
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi pada perdagangan harian. Sejak awal 2026, rupiah telah melemah sekitar 7,75%. Angka itu menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan depresiasi terdalam di kawasan Asia.
Baht Thailand turun sekitar 6,15%. Rupee India melemah 5,95%. Won Korea Selatan dan peso Filipina sama-sama terkoreksi 4,47%.
Data tersebut menunjukkan tekanan masih membayangi sebagian besar mata uang Asia. Namun, besarnya pelemahan berbeda di setiap negara.
Yuan China Menjadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia
Yuan China justru mencatat kenaikan sekitar 2,82% sepanjang 2026. Kinerja itu menjadikan yuan sebagai salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan Asia.
Penguatan yuan berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia yang masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut mencerminkan perbedaan respons pasar serta faktor ekonomi di masing-masing negara.
Pelaku Pasar Terus Mencermati Pergerakan Rupiah
Pelaku pasar terus mencermati pergerakan rupiah. Nilai tukar yang menembus Rp18.070 per dolar AS menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik belum mereda.
Pergerakan kurs rupiah memengaruhi biaya impor, inflasi, dan aktivitas perdagangan. Investor juga terus memantau arah dolar AS sebagai faktor utama yang menggerakkan pasar valuta asing. Selama dolar AS bertahan kuat, volatilitas rupiah masih berpotensi berlanjut.

Tinggalkan Balasan