Megadewa88portal.comPaylater perbankan
terus mencatat pertumbuhan positif di tengah perkembangan layanan keuangan digital. Masyarakat kini semakin sering memakai fasilitas buy now pay later (BNPL) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka pendek.

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat baki debet paylater perbankan mencapai Rp30,1 triliun hingga Mei 2026. Nilai tersebut meningkat sebesar 37,72 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan ini naik dibandingkan April 2026 yang mencapai 37,29 persen yoy. Kondisi tersebut memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital.

Pertumbuhan Paylater Mengungguli Kredit Konsumsi Bank

Paylater mencatat pertumbuhan jauh lebih tinggi dibandingkan kredit konsumsi perbankan. Hingga Mei 2026, industri perbankan mencatat pertumbuhan kredit konsumsi sebesar 5,89 persen yoy.

Angka tersebut menurun dibandingkan April 2026 yang mencapai 6,13 persen yoy. Perbedaan tersebut menunjukkan perubahan cara masyarakat memilih layanan pembiayaan.

Masyarakat kini lebih memilih layanan yang cepat, praktis, dan mudah melalui aplikasi digital. Sebaliknya, kredit konsumsi bank biasanya membutuhkan tahapan pengajuan yang lebih panjang.

Walaupun tumbuh pesat, kontribusi paylater terhadap total kredit perbankan masih kecil. Industri perbankan mencatat porsi paylater sebesar 0,34 persen dari total kredit hingga Mei 2026.

Baca Juga: Kredit Rp 2.575 Triliun, OJK Ungkap Potensi Perbankan

Digitalisasi Mengubah Preferensi Konsumen

Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyebut perubahan perilaku konsumen sebagai faktor utama pertumbuhan paylater.

Menurut Trioksa, masyarakat membutuhkan layanan pembiayaan yang menawarkan proses cepat dan fleksibel. Konsumen juga memilih produk yang tersedia melalui platform digital.

Paylater memberikan kemudahan karena pengguna bisa mengajukan pembiayaan langsung melalui aplikasi. Layanan ini juga menawarkan batas kredit yang sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat.

“Pengajuan kredit konsumsi bank umumnya memerlukan proses yang lebih panjang dan persyaratan yang lebih ketat,” ujar Trioksa.

Tekanan daya beli masyarakat turut mendorong penggunaan paylater. Sebagian konsumen memakai layanan tersebut untuk mengatur kebutuhan keuangan dalam jangka pendek.

Prospek Bisnis Paylater Masih Menjanjikan

Perbankan melihat paylater sebagai peluang besar dalam pengembangan layanan keuangan digital. Meningkatnya penggunaan aplikasi perbankan turut mempercepat pertumbuhan produk ini.

Trioksa memperkirakan tren pertumbuhan paylater masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Namun, sejumlah faktor dapat memengaruhi laju ekspansi bisnis tersebut.

Kondisi daya beli masyarakat, perubahan aturan, dan kebijakan penyaluran kredit perbankan akan menentukan perkembangan paylater pada masa mendatang.

Perbankan Perlu Menjaga Risiko Pembiayaan

Pertumbuhan paylater yang tinggi membutuhkan pengelolaan risiko yang kuat. Bank perlu menjaga keseimbangan antara peningkatan penyaluran kredit dan kualitas pembiayaan.

Bank dapat memperkuat sistem credit scoring berbasis data untuk menilai kemampuan bayar pengguna. Langkah ini membantu bank memilih debitur dengan profil risiko yang sesuai.

Selain itu, bank perlu memantau pola pembayaran nasabah secara berkala. Pengendalian batas kredit dan sistem peringatan dini juga membantu bank mengurangi risiko kredit bermasalah.

Melalui strategi tersebut, industri perbankan mampu menjaga pertumbuhan layanan paylater secara sehat. Produk ini berpeluang menjadi bagian penting dalam perkembangan industri keuangan digital Indonesia.