Megadewa88portal.com  Gempa bumi kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8) pagi. Gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,8 itu terjadi ketika proses penanganan dan pemulihan pascagempa utama M 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus masih berlangsung.

Guncangan terjadi pada pukul 05.45 WIB. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di darat sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.

BMKG memastikan gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama M 7,7. Masyarakat juga diminta tidak panik karena gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Guncangan Terasa Kuat di Manggarai

Getaran gempa M 5,8 paling kuat dirasakan di wilayah Manggarai dengan intensitas V-VI Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada tingkat tersebut, guncangan dapat dirasakan hampir oleh seluruh penduduk dan berpotensi menyebabkan kerusakan ringan pada sejumlah bangunan.

Selain Manggarai, getaran juga dilaporkan terasa di Nagekeo, Manggarai Barat, dan Sikka.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta memperoleh informasi mengenai perkembangan gempa hanya dari sumber resmi.

Gempa terbaru tersebut sekaligus memperpanjang aktivitas seismik yang masih terjadi di Flores. Data BMKG yang dikutip Metro TV mencatat sedikitnya 3.394 gempa susulan telah terjadi hingga Kamis pagi.

Aktivitas gempa susulan diperkirakan masih akan berlangsung. Namun, intensitasnya diharapkan terus menurun secara bertahap seiring waktu.

Pemerintah Masih Berpacu Buka Akses Wilayah Terisolasi

Gempa susulan terjadi di tengah upaya pemerintah mempercepat penanganan dampak bencana. Salah satu tantangan terbesar adalah menjangkau masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan daerah yang aksesnya terputus akibat kerusakan jalan maupun longsor.

Pemerintah sejak awal bencana telah mengerahkan peralatan berat untuk membuka kembali jalur transportasi menuju wilayah terdampak.

“Sejak hari pertama, pekerjaan umum langsung terbang ke daerah bencana untuk memastikan alat-alat berat segera di-deploy, segera dikerahkan,” kata Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dikutip Antara, Rabu (19/8).

Baca Juga Victor Wembanyama Ditunjuk Sebagai Kapten Timnas Prancis, Siap Pimpin Les Bleus Menuju Piala Dunia 2027

Menurut AHY, pembukaan akses jalan menjadi salah satu pekerjaan mendesak agar distribusi bantuan dapat kembali berjalan. Selain itu, pemerintah juga memprioritaskan pemulihan berbagai layanan dasar yang dibutuhkan masyarakat.

“Memulihkan kembali infrastruktur dasar, air, listrik, dan lain sebagainya. Ini harus dipastikan karena itu yang paling mendasar bagi masyarakat,” ujarnya.

Pulau Palue Jadi Salah Satu Tantangan

Kondisi geografis NTT sebagai wilayah kepulauan membuat proses penanganan bencana memiliki tantangan tersendiri. Tidak semua daerah dapat dijangkau dengan kendaraan darat sehingga distribusi bantuan melalui jalur laut dan udara menjadi sangat penting.

Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian khusus karena mengalami kerusakan cukup berat dan memiliki akses yang tidak mudah.

BNPB menyiagakan armada darat, laut, dan udara untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses. Sejumlah pesawat ditempatkan di Labuan Bajo dan Maumere, termasuk helikopter yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan evakuasi medis.

Armada truk logistik, kapal Pelni, serta kapal feri juga dikerahkan untuk membantu mendistribusikan bantuan ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Pulau Palue.

Kementerian Sosial bersama BNPB turut mengerahkan helikopter dan kapal feri untuk membawa bantuan kepada masyarakat yang berada di lokasi terpencil. Personel gabungan juga terus bergerak untuk memastikan pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar.

“Kami terus mengadakan rapat koordinasi dan membagi tugas untuk memastikan pemulihan yang cepat,” kata Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Dapur Umum Disiapkan di Sejumlah Daerah

Selain membuka akses, kebutuhan makanan bagi warga terdampak juga menjadi perhatian pemerintah. Tujuh dapur umum telah dioperasikan di sejumlah wilayah, yakni Manggarai, Sikka, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, dan Ngada.

Dapur umum tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang terdampak bencana, terutama warga yang masih berada di pengungsian.

Pemerintah juga terus melakukan pendataan agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa penanganan harus dilakukan berdasarkan kondisi di setiap titik terdampak. Dengan begitu, bantuan dan proses pemulihan dapat berjalan lebih tepat sasaran.

“Prioritas utama, evakuasi dan menolong korban, dan memulihkan infrastruktur dasar, listrik, internet, komunikasi, kemudian jalan, akses, harus dibuka,” kata Tito.

Hampir Seluruh BTS Kembali Beroperasi

Pemulihan tidak hanya dilakukan pada jalan dan fasilitas umum. Infrastruktur komunikasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan bencana.

Baca Juga Kortas Tipikor Polri Sebut Praperadilan Febrie Adriansyah Salah Alamat, Ini Alasannya

Hingga Selasa (18/8) petang, pemerintah menyatakan 99,9 persen menara BTS yang terdampak gempa telah kembali beroperasi.

Dari total 812 BTS yang sebelumnya mengalami gangguan, hanya satu BTS di Kabupaten Manggarai yang masih dalam proses perbaikan.

Kembalinya jaringan komunikasi menjadi langkah penting bagi masyarakat maupun petugas di lapangan. Selain memudahkan warga berkomunikasi dengan keluarga, jaringan tersebut juga membantu koordinasi distribusi bantuan dan penanganan darurat.

Pemulihan Terus Berjalan di Tengah Ancaman Gempa Susulan

Gempa M 5,8 yang kembali mengguncang Flores menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik di wilayah tersebut belum sepenuhnya berakhir. Meski demikian, pemerintah dan tim gabungan terus melanjutkan proses evakuasi, pembukaan akses, distribusi logistik, serta pemulihan layanan dasar.

Di tengah ribuan gempa susulan yang masih terjadi, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal, khususnya mereka yang tinggal di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.

Pemerintah pun terus mengandalkan kombinasi jalur darat, laut, dan udara untuk menembus daerah-daerah yang masih terisolasi. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.

Masyarakat di wilayah terdampak juga diimbau tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas gempa.