Megadewa88portal.comPosisi utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat pada Mei 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat total ULN mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp7.999 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Secara tahunan (year on year/yoy), nilainya tumbuh 2,1 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,0 persen pada April 2026.

Pemerintah mendorong kenaikan tersebut melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Langkah itu menarik aliran dana dari investor global. Pada saat yang sama, sektor swasta mulai menunjukkan perbaikan karena kontraksi utang luar negerinya terus melambat.

Pemerintah Menopang Pertumbuhan Utang Luar Negeri

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pemerintah menjadi penyumbang utama pertumbuhan ULN Indonesia pada Mei 2026. Penerbitan obligasi di pasar internasional memberikan tambahan pembiayaan yang mendorong kenaikan posisi utang.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan aliran dana dari penerbitan SBN internasional menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan utang luar negeri pemerintah.

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan total ULN Indonesia.

Baca Juga: Target Swasembada Garam 2027 Terancam Lonjakan Impor

Utang Luar Negeri Swasta Mulai Pulih

Sektor swasta masih mencatat penurunan utang luar negeri. Namun, laju penurunannya semakin kecil dibandingkan bulan sebelumnya.

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri swasta sebesar US$195,9 miliar. Nilai itu mengalami kontraksi 0,1 persen secara tahunan. Sebulan sebelumnya, kontraksinya masih mencapai 0,5 persen.

Lembaga keuangan berhasil mengurangi penurunan utang luar negeri. Hasilnya, kondisi pembiayaan sektor swasta semakin stabil dan mampu menjaga tren pemulihan.

Pelaku usaha juga mulai memperkuat ketahanan terhadap perubahan ekonomi global. Mereka terus menyesuaikan strategi pembiayaan di tengah kenaikan suku bunga internasional dan fluktuasi nilai tukar.

Rasio ULN terhadap PDB Tetap Aman

Bank Indonesia menilai kondisi utang luar negeri Indonesia masih sehat meskipun nilainya meningkat. Berbagai indikator fundamental tetap menunjukkan kondisi yang kuat.

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 29,9 persen pada Mei 2026. Ekonomi nasional masih mampu mengelola pembiayaan luar negeri sehingga rasio tersebut tetap berada dalam batas yang aman.

Utang berjangka panjang mencapai 83,9 persen dari total ULN Indonesia. Komposisi itu membantu mengurangi risiko pembiayaan jangka pendek. Pemerintah dan pelaku usaha juga memiliki waktu yang lebih panjang untuk memenuhi kewajiban pembayaran.

Pemerintah menjalankan strategi pembiayaan yang mengutamakan stabilitas ekonomi dan keberlanjutan fiskal. Strategi tersebut memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam mengelola utang luar negeri secara hati-hati. Langkah itu bertujuan menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memastikan pembiayaan pembangunan tetap berjalan.

Pemerintah dan Bank Indonesia juga meningkatkan efisiensi pengelolaan pembiayaan. Keduanya berupaya menjaga kepercayaan investor serta mengantisipasi berbagai risiko yang muncul akibat ketidakpastian ekonomi global.

Indonesia masih memiliki ruang yang memadai untuk mengelola pembiayaan luar negeri secara berkelanjutan. Rasio ULN tetap sehat, sedangkan utang jangka panjang mendominasi struktur pembiayaan. Kondisi itu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pembangunan di berbagai sektor strategis.